Jejakmu
Seketika itu
Ya, secepat itu…
Jejakmu muncul dalam benakku
Sentilan perasaan yang menggelegar
Wajahmu, matamu menari di pelupuk
Mengingat impian-impian yang tercipta
Tanpa kuminta
Tanpa perintah
Sisa jejakmu muncul begitu saja
It's nice to be important, but it’s more important to be nice
Kutipan di atas menarik perhatianku. Iya ya…seringkali kita semua berjuang utk menjadi orang yang 'penting' karena hal ini memanjakan 'ego' kita. Coba deh, kalo orang penting biasanya kan dapet macem2: mendapat penghormatan, orang-orang menjadi segan, mendapat berbagai fasilitas, didengar, diikuti, dipuji…wuiiih… masih banyak lagi varian imbal balik sebagai orang penting.
Lihat saja waktu Presiden Barack Obama akhirnya tiba di Indonesia. Sebagai orang yang sedemikian penting, pengamanan di jalan luar biasa sampai-sampai dia gak merasakan macet sedikitpun! Bayangkan saja, waktu tempuh dari Halim Perdanakusuma hingga ke Istana Negara hanya sekitar 20 menit. Sementara "rakyat jelata" Jakarta di hari biasa untuk jalur yang sama perlu waktu tempuh lebih dari satu jam. Ya itu satu contoh konkrit bedanya perlakuan bagi orang penting dan yang ya…kurang penting . :)
Melalui liputan televisi yang menguntit hampir setiap langkahnya, ada sesuatu yang membuatku menyadari mengapa dulu publik Amerika Serikat begitu terpikat sama sosok Obama.
He (seems) to be such a nice person! Karena memang jujur aku gak kenal langsung jadi ya aku bilangnya he 'seems'. Dari liputan2 kunjungannya kemarin itu, dan juga foto-foto serta liputan-liputan sebelumnya waktu dia masih melakukan kampanye utk menjadi presiden, khususnya dengan memperhatikan bahasa tubuhnya, bagi saya Obama terlihat sebagai sosok dengan pribadi yang hangat, membumi, sopan dan tidak menjaga jarak.
Ini kemudian menarik pikiranku ke negeri tercinta. Bagiku, entah kenapa, semakin ke sini, semakin jarang sosok pejabat Indonesia yang dapat merangkai istilah "penting" dengan "perilaku baik" atau bahkan "membumi". Gak usah repot-repot mikir contoh, pasti dengan cepat langsung banyak yang kepikiran, mulai dari komentar yang kurang tepat dengan situasi, sikap yang gak pas sebagai pemimpin, prioritas yang gak jelas dlsb. Belum lagi ditambah dengan perilaku orang-orang sekitar yang ikut-ikutan penting …hehehe…makin rame deh...
Mungkin apa yang aku tangkap tentang Obama hanyalah persepsi dari sebuah pencitraan, namun aku merasa banyak (sekali lagi tidak semua ya) pejabat-pejabat negeri kita, mau yang di eksekutif maupun di legislatif, pusat maupun daerah yang pencitraan baiknya saja gak dipikirkan, apalagi mewujudkan perilaku yang benar-benar "baik dan membumi". Mayoritas tindak tanduknya hanya mengedepankan bahwa mereka adalah "orang-orang penting". Titik.
Apa yang salah, entahlah. Barangkali banyak yang belum siap menjadi pemimpin dengan amanah yang berat, atau gak tau sebenarnya tugasnya itu apa, atau barangkali banyak yang gak siap dalam berkomunikasi politik. Tapi sebenarnya, siapapun kita , baik pejabat maupun rakyat jelata, dalam setiap langkah harus mengingat bagian akhir dari kutipan judul tulisan ini: "it's more important to be nice". Siapa tahu dengan mengingat hal sederhana ini, negeri kita akan menjadi lebih baik….Aamiin!